Bagi kita, Kerja keras dan belajar adalah kewajiban, amanah dari keluarga, dan jalan untuk mencapai masa depan yang lebih baik
My Blog List
Saturday, 16 January 2010
Keseimbangan Akal dan Hati
Banyak orang berkata bahwa barang siapa menginginkan kesuksesan maka gunakanlah hati dan pikiran secara seimbang. Dalam bersikap, bertutur kata, dan dalam mengambil keputusan hendaknya meminta pertimbangan dari akal maupun hati. Dengan pertimbangan akal maka keputusan tersebut juga tidak akan melanggar kebenaran akal, minimal akal kita sendiri. Dengan menggunakan hati, keputusan tersebut tidak akan bertentangan dengan hati seseorang, minimal hati kita sendiri. Mengapa hal ini harus dilakukan? Masing masing akal dan hati secara umum mengetahui suatu kebenaran umum yang diakui bersama. Barangsiapa yang melanggar ketentuan akal dan hati maka ia adalah orang yang menentang akal atau hati.
Pada zaman Aufklarung ( pencerahan ) di abad ke 18 seorang anak manusia bernama Immanuel Kant berpendapat tentang zaman pencerahan adalah zaman dimana manusia keluar dari keadaan tidak akil balik. Manusia telah berani untuk berfikir sendiri. Semula Kant dipengaruhi oleh rasionalisme Leibniz dan Woltf kemudian ia pun dipengaruhi empirisme Hume, selain juga nampak pula pengaruh Rousseou.
Keseimbangan akal dan hati ini telah dicetuskan oleh Kant. Tujuan utama dari filsafat kritis Kant adalah untuk menunjukkan, bahwa manusia bisa memahami realitas alam (natural) dan moral dengan menggunakan akal budinya. Pengetahuan tentang alam dan moralitas itu berpijak pada hukum-hukum yang bersifat apriori, yakni hukum-hukum yang sudah ada sebelum pengalaman inderawi. Pengetahuan teoritis tentang alam berasal dari hukum-hukum apriori yang digabungkan dengan hukum-hukum alam obyektif. Sementara pengetahuan moral diperoleh dari hukum moral yang sudah tertanam di dalam hati nurani manusia.
Kant menentang empirisme dan rasionalisme. Empirisme adalah paham yang berpendapat, bahwa sumber utama pengetahuan manusia adalah pengalaman inderawi, dan bukan akal budi semata. Sementara rasionalisme berpendapat bahwa sumber utama pengetahuan adalah akal budi yang bersifat apriori, dan bukan pengalaman inderawi. Bagi Kant kedua pandangan tersebut Kant juga berpendapat bahwa moralitas memiliki dasar pengetahuan yang berbeda dengan ilmu pengetahuan (science). Oleh karena itu ia kemudian menulis Groundwork of the Metaphysics of Morals pada 1785, dan Critique of Practical Reason pada 1788. Pada 1790 Kant menulis Critiqe of the Power of Judgment. Di dalamnya ia menyentuh bidang estetika.
Di dalam bagian pengantar dari Kritik atas Rasio Murni, Kant menyatakan bahwa “walaupun metafisika banyak dimaksudkan sebagai ratu dari ilmu-ilmu, tetapi rasionalitas metafisis kini dihadapkan pada sebuah pengadilan. Sekali lagi, “kita harus menelusuri kembali langkah-langkah yang telah kita rumuskan. Perdebatan di dalam refleksi metafisika telah membuat metafisika itu sendiri menjadi semacam medan pertempuran, di mana setiap pihak yang berperang tidak berhasil mendapatkan satu inci pun dari ‘teritori’ yang ada. Konsekuensinya metafisika kini ‘terombang ambing’ di antara dogmatisme dan skeptisisme. Metafisika telah menjadi pemikiran spekulatif yang meraba-raba secara acak. haruslah dikombinasikan dalam satu bentuk sintesis filosofis yang sistematis.
Immanuel Kant berpikir lain. Pada Kant metafisika dipahami sebagai suatu ilmu tentang batas-batas rasionalitas manusia. Metafisika tidak lagi hendak menyibak dan mengupas prinsip mendasar segala yang ada tetapi metafisika hendak pertama-tama menyelidiki manusia (human faculties) sebagai subjek pengetahuan.
Disiplin metafisika selama ini yang mengandaikan adanya korespondensi pikiran dan realitas hingga menafikkan keterbatasan realitas manusia pada akhirnya direvolusi total oleh Kant. Dalam diri manusia, menurut Kant, ada fakultas yang berperan dalam menghasilkan pengetahuan yaitu sensibilitas yang berperan dalam menerima berbagai kesan inderawai yang tertata dalam ruang dan waktu dan understanding yang memiliki kategori-kategori yang mengatur dan menyatukan kesan-kesan inderawi menjadi pengetahuan.
Tulisan Kant yang paling awal cenderung pada metafisika rasionalistik.
Kaum rasionalis percaya bahwa dasar dari seluruh pengetahuan manusia ada di dalam pikiran. Sedangkan kaum empiris percaya seluruh pengetahuan tentang dunia berasal dari pencerahan indrawi.
Kant beranggapan bahwa kedua pandangan itu sama sama benar separuh, tapi juga sama sama salah separuh. Jadi baik indrawi maupun Akal sama sama memainkan peranan dalam konsepsi kita mengenai dunia.
Dengan adanya keseimbangan antara akal dan hati inilah sebenarnya menerangkan tentang moral. Moral adalah penunjang keberhasilan seseorang. Nabi Muhammad sebagai tokoh dunia yang diakaui oleh orang baratpun pernah mengatakan. “Jika engkau ingin berhasil maka akhlak adalah kuncinya”.
Selanjutnya filsafat Kant ini disebut sebagai filsafat transendental (transcendental Philosophy). Filsafat transendental adalah filsafat yang berurusan bukan untuk mengetahui objek pengalaman melainkan bagaimana subjek (manusia) bisa mengalami dan mengetahui sesuatu. Filsafat transendental itu tidak memusatkan diri dengan urusan mengetahui dan mengumpulkan realitas kongkrit seperti misalnya pengetahuan tentang anatomi tubuh binatang, geografis, dll, melainkan berurusan dengan mengetahui hukum-hukum yang mengatur pengalaman dan pemikiran manusia tentang anatomi tubuh binatang, dll. Hukum-hukum itu oleh Kant disebut hukum apriori (hukum yang dikonstruksi akal budi manusia) dan bukan hukum yang berdasarkan pengetahuan inderawi (aposteriori).
Dengan demikian metafisika gnoseologi Kant ini merupakan sebuah upaya untuk mereduksi realitas kongkrit (inderawi) pada realitas di dalam akal budi. Bahwa akal budi manusia mempunyai struktur-struktur pengetahuan mengenai segala apa yang ada.
Dalam pandangan Kant, objek itu nampak hanya dalam kategori subjek, jadi tidak ada cara lain kecuali mengetahuinya dengan struktur kategori akal budi manusia. Sebenarnya pemikiran Kant ini berangkat dari pemahamanya tentang hakikat realitas atau neumena itu tidak pernah diketahui , yang kita ketahui itu gejalahnya. Sejauh objek itu saya lihat lantas segala yang dilihat itu masuk dalam akal budi menjadi pengetahuan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Hatta, Mohammad. 1986. Alam Pikiran Yunani. Jakarta. Penerbit Universitas Indonesia.
2. http://cobra_go.blog.plasa.com/2008/06/22/immanuel-kant/ (13-1-2009)
3. http://macheda.blog.uns.ac.id/2009/11/14/pemikiran-immanuel-kant/ (13-1-2009)
4. Tafsir, Ahmad. 2003. Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra. Bandung, PT Remaja Rosdakarya.
Ternyata, Panglima Itu Adalah Sebuah Kata
Kata adalah suatu unit dari suatu bahasa yang mengandung arti dan terdiri dari satu atau lebih morfem. Umumnya kata terdiri dari satu akar kata tanpa atau dengan beberapa afiks. Itulah definisi dari kata. Dengan cara apa sebuah kata ditinjau, dan apa manfaat, dan pengaruh dari sebuah kata?
Kata memang kelihatan sederhana. Tapi di balik kesederhanaan dari sebuah kata, ia mampu membuat sesuatu tergetar, bergerak, bertindak, bergeser, merubah arah, bahkan mampu mengguncang bumi dan dunia ini.
I Pemuda dan Putri Kiai
Istiqomah, “Aku takut bilang Ayah karena ini sudah larut malam. Dari sore hingga malam engkau mengajakku keluar hingga larut malam begini.”
Andreas, “Dirimu tenang saja Isti, aku sendiri yang akan mengetuk pintu rumahmu dan bilang pada ayahmu sekaligus memintakan ijin bahwa kali ini engkau pulang sampai larut malam”.
Andreas dan Istiqomah adalah dua sejoli yang sedang dilanda cinta. Andreas adalah seorang pemuda Nasrani yang gagah, sopan, tubuhnya tinggi dan tampan. Sementara Istiqomah adalah putri dari seorang Kyai yang cukup tersohor di tempat tinggalnya bahkan orang diluar daerahnyapun banyak yang mengenalnya karena memiliki pondok pesantren yang besar dengan sekitar 550 orang santri.
Memang tidak mudah berbicara pada seorang kyai seperti ayahnya istiqomah. Dengan sopan dan tenang Andreas berhasil meyakinkan Sang kyai.
II Proklamasi
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta
Naskah proklamasi dibacakan pada 17 Agustus 1945 sekitar pukul 10.00. Sejak saat itu Indoneia merdeka.
Kalimat yang sarat makna. Pemilihan kata-katanya cermat. Pada kalimat pertama, kata kerja menyatakan (to declare) dapat mengundang pertanyaan apakah kemerdekaan memang dapat dinyatakan begitu saja? Secara ringan kita tentu akan menjawabnya "ya", tetapi tidak pada 64 tahun lalu. Secara politis dan militer, situasi menjelang detik-detik proklamasi tidak mudah karena secara de facto Indonesia masih di bawah pendudukan militer Jepang. Sejak Jepang menyerah kepada sekutu pada 14 Agustus 1945, secara de jure semua daerah pendudukan Jepang beralih kepada tentara sekutu.
Dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan akhirnya Bangsa Indonesia memperoleh kemerdekaan. Merdeka menentukan nasib, hidup aman dan mengemukakan pendapat meskipun tidak penuh 100%.
Setelah merdeka, Bangsa Indonesia tidak lagi mengalami kerja rodi. Ada perubahan besar setelah Proklamasi. Bangsa Indonesia memilki hak untuk menentukan nasib sendiri, berhak menentukan pekerjaan yang ia inginkan. Hak pendidikan, kini bangsa Indonesia memilki kebebasan untuk menentukan arah kebijakan pendidikan, sosial, politik.
III Putus Cinta
“Putus saja!” kata yang terucap dari bibir Toni kepada Dewi. Bgaikan disambar petir Dewipun menangis sambil berlari pulang. Dewi tidak menyangka bahwa pertemuannya dengan Toni kali ini malah menjadi suasana hati semakin hancur, tidak mendapatkan solusi atas permasalahan yang mereka hadapi tetapi malah membuat hati Dewi hancur berkeping-keping. Suatu permasalahan yang sebenarnya bisa dielesaikan tetapi karena terbawa emosi, akhirnya kata itu terucap.
Betapa kecewanya hati Dewi. Hubungan yang sudah direstui kedua keluarga besar inipun harus berakhir dengan tragis. Mereka sudah bertunangan. Bahkan mereka sudah berencana untuk menikah tahun depan. Tapi apa daya nasi sudah menjadi bubur. Rupanya sifat mereka tidak ada yang mau mengalah mengakibatkan hubungan yang sudah terjalin 3 tahunpun kandas di tengah jalan.
Betapa sedihnya Dewi. Kecewa, menangis setiap hari menjadi kenangan pahit yang tak terlupakan. Dewi berniat bunuh diri.
Panglima adalah Kata
Dengan kata-kata Andreas mampu meyakinkan Sang Kiai, walaupun tidak semudah yang dibayangkan dan diiringi dengan perjuangan, dengan kata “Proklamasi” Bangsa Indonesi menyatakan kemerdekaan. Sangat besar sekali pengaruh dari proklamasi kemerdekaan. Dengan kata “Proklamasi” bangsa Indonesia bebas untuk bersekolah, bebas untuk memilih tingkat pendidikannya, bukan hanya orang-orang bangsawan saja yang diperbolehkan untuk menempuh pendidikan formal.
Kata “putus” membuat orang ingin bunuh diri. Sebuah kata yang sangat menyakitkan bila terdengar pada dua sejoli yang sedang dimabuk asmara. Membuat dunia yang sebelumnya terang, kini menjadi gelap seolah tidak ada masa depan. Membuat orang terkungkung dalam kesedihan. Membuat orang tidak berdaya. Membuat orang tidak bekerja. Membuat orang menjadi tidak produktif. Membuat orang menjadi terhambat aktifitasnya. Jika ia seorang pekerja yang rajin, ia dapat menjadi pemalas. Jika ia orang yang periang maka ia akan menjadi murung. Jika ia orang yang beragama dapat berubah menjadi takpercaya. Bahkan jika ia seorang penyayang dapat berubah menjadi pembenci. Jika ia seorang wanita dapat menjadikan ia berubah ingin menjadi laki-laki. Bahkan jika dia hidup dapat menjadikan ia mati. Rupanya kata adalah panglima yang bisa berbuat sesuai kehendaknya. Maka berhati-hatilah dalam berkata-kata maupun menyususn kata-kata.
Bertrand Russell, Ludwig Wittgenstein, terutama John L. Austin dan John R. Searle, adalah para pakar bahasa dan filsafat. Para pakar tersebut mengkaji bahasa, termasuk penggunaannya, dalam kaitannya dengan logika. Leech (1983: 2), seperti dikutip Gunarwan (2004: 7), mengemukakan bahwa pengaruh para filsuf bahasa, misalnya Austin, Searle, dan Grice, dalam pragmatik lebih besar daripada pengaruh Lakoff dan Ross.
Wednesday, 9 December 2009
Matematika Menganyam Dunia
Dunia :
Wahai kawan-kawanku mengapa engkau mengatakan bahwa kalian adalah bagian dariku, sementara aku tidak pernah menyentuhmu. Silakan kalian membuktikan kepadaku. Lingkaran, silakan kamu menerangkan kepadaku.
Lingkaran :
Diriku menyusun dirimu wahai dunia. Lihatlah disana ada seseorang yang sedang pergi berkendaraan menggunakan kendaraan bermotor. Tahukah kamu roda dari motor adalah model dari diriku. Roda berbentuk lingkaran. Bayangkan jika roda berbentuk lonjong, kotak, elips maupun yang lain, niscaya orang itu tidak akan nyaman menaiki kendaraannya. Dan lihatlah cakram-cakram bergerigi pada kendaraan itu, cakram-cakram dan sekrup, penampang pipa-pipa shock, lubang mengisi bensin semuanya adalah model dari diriku. Tidak hanya itu, matahari, serta benda-benda langit lainnya juga merupakan model dari diriku.
Dunia :
Baiklah kalau begitu, sekarang giliran persegi panjang. Apa buktinya kalau engkau merupakan bagian dari diriku?
Persegi Panjang :
Lihatlah rumah itu wahai dunia. Pintunya merupakan model dari diriku. Jendelanya meniru model diriku, permukaan meja di dalam rumah meniru diriku. Lukisan itu bingkainya adalah model diriku. Layar TV meniru bentuk diriku, layar komputer juga meniru diriku. Bahkan bentuk bidang tanah tempat berdirinya rumah juga merupakan model dari diriku.
Dunia :
Aku sedikit memahami wahai persegi panjang. Sekarang aku persilakan elips untuk membuktikan mengapa dia bagian dariku?
Elips :
Jelaslah wahai dunia, bumi, mars, planet-planet yang lain serta bulan dan satelit di masing-masing planet memiliki lintasan yang menyerupai bentuk diriku. Komet juga memiliki lintasan yang menyerupai diriku. Penampang bumi dan planet-planet lain juga memilki bentuk menyerupai diriku. Itulah bukti bahwa diriku menyusun dirimu wahai dunia.
Dunia :
Sekarang giliran Tabung. Silakan Tabung.
Tabung :
Jelaslah wahai dunia, bahwa diriku menyusun dirimu. Tahukah engkau bahwa pipa merupakan model dari diriku. Manusia banyak menggunakan pipa baik dari plastik maupun dari besi. Skrup pada kendaraan, skrup pada mesin-mesin, tiang-tiang listrik, bentuk kabel listrik agar orang bisa menikmati listrik, knalpot dan shock kendaraan merupakan model dari diriku.
Dunia :
Oo… begitu rupanya. Aku memahaminya. Bagaimana dengan trapesium?
Trapesium :
Wahai dunia lihatlah pintu rumah itu. Pembuat pintu itu menginginkan agar pintu itu berbentuk persegi panjang. Tapi lihatlah manusia tidak akan mungkin dengan tepat mengukurnya, tidak akan sempurna dengan alat ukur terbaik sekalipun karena alat-alat itu buatan manusia yang juga tidak sempurna. Pintu itu justru malah menyerupai diriku karena manusia tidak teliti. Lihatlah bidang atap pada rumah yang berbentuk limasan itu juga menyerupaiku.
Dunia :
Seperti itu rupanya… Selanjutnya aku persilakan Balok untuk membuktikan. Silakan Balok.
Balok :
Lihatlah lemari itu wahai dunia, lihat pula kulkas, computer, barang-barang itu meniru model diriku. Lihatlah wadah tempat Tv, tempat computer, bentuk laci, serta balok-balok kayu untuk membuat barang-barang dari kayu yang bermanfaat untuk manusia banyak sekali yang mengambil modelku. Ponsel yang setiap saat menemani manusia juga menggunakan bentukku.
Dunia :
Aku mengerti tentang apa yang engkau katakan. Sekarang aku ingin mendengar bukti dari x.
x :
Aku hanyalah simbol, orang memanggilku sebagai variable, temanku adalah y, z, dll. Dengan variable manusia bisa menghitung sesuatu. Menghitung harga barang, menghitung pertumbuhan ekonomi, waktu, jarak , kecepatan, menghitung dalam bidang ilmu teknik, ilmu hayat dsb. Aku telah membuka cakrawala manusia untuk memudahkan mereka menghitung siang dan malam, menghitung awal puasa, menghitung pergantian tahun, abad dsb.
Dunia :
Besar sekali kegunaanmu wahai x, sekarang aku mulai memahami. Baiklah sekarang giliran dari bilangan 1 (satu).
1 (satu) :
Aku adalah lambang bilangan, orang menambahkan diriku dengan diriku akan menghasilkan 2 (dua) begitu juga seterunya. Ilmuwan mengatakan aku menyusun bilangan-bilangan yang lain. 3 adalah kelipatanku, 4 adalah kelipatanku, 10000 juga kelipatanku. Dalam menghitung sesuatu manusia selalu melibatkan aku.
Tuesday, 1 December 2009
Ontologi Diriku
Guru :
Wahai murid, kiranya apa yang akan engkau tanyakan kemarin? Maafkanlah gurumu ini jika baru kali ini bisa mendengarkan pertanyaanmu, meskipun aku sendiri tidak yakin mampu memenuhi harapanmu.
Murid :
Maafkan muridmu ini guru jika merepotkanmu. Aku hanya ingin menanyakan siapakah sebenarnya diriku ini guru?
Guru :
Dirimu adalah seorang anak yang dititipkan oleh kedua orang tuamu di tempat belajarku ini. Ayahmu adalah sahabatku. Aku dan ayahmu bersama-sama menempuh suatu tempat belajar di pelosok negeri ini. Setelah menikah dengan ibumu, ayahmu adalah seorang saudagar kaya, ia memiliki kapal untuk berdagang melintasi laut menuju Negeri Cina, Asia Tenggara dan Arab, sementara aku meneruskan Kakek Gurumu mengajar di sini. Ayahmu adalah saudagar barang-barang antik dari negara ke negara yang lainnya. Sutra, guci, keramik dan emas merupakan barang dagangannya. Karena kesibukannyalah engkau dititipkan kesini, hingga akhirnya kini ayahmu meninggal karena sakit jantung yang mendadak, sementara ibumu meninggal tahun lalu.
Sambil menitikkan airmata sang muridpun mengangguk, sedih mengenang ayah dan ibunya yang kini telah meninggal. Mengenang kepergian orang-orang yang ia sayangi.
Guru :
Maafkanlah gurumu ini jika membuatmu bersedih muridku….
Murid :
Tidak guru, ini bukan airmata kesedihan, bukan pula airmata penyesalan, melainkan ini adalah airmata kewajaran. Bahwasanya setiap manusia akan mengalami apa yang saya alami. Mmm… Tetapi Guru belum menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang sedalam-dalamnya mengenai siapakah diriku ini Guru?
Guru :
Baiklah kalau memang itu yang menjadi keinginanmu. Seperti yang engkau katakana bahwa airmata itu adalah air mata kewajaran, air mata yang setiap orang akan menemui. Bagaikan suatu peristiwa yang menunggu antrean manusia untuk mengalaminya. Dunia berkali-kali menemui hal seperti ini berkali-kali.; Siklus. Airmata bisa berarti kewajaran, kesedihan , kekecewaan, bahkan kebahagiaan dan kemenangan. Kenapa engkau sebagai manusia bisa bersedih?
Murid :
Karena sifat sedihku muncul Guru.
Guru :
Kadang seseorang menjadi kuat dan kadang menjadi lemah, kadang berpenampilan bersih, rapi, kadang suka memberi, kadang mengasihi sesama, kadang membuat sesuatu, membuat meja misalnya, kadang berbuat baik, kadang menolong, bahkan kadang marah. Serta hal-hal lain yang tidak mampu engkau ungkapkan. Tahukah mengapa itu terjadi?
Murid :
Aku menjadi kuat karena muncul kekuatan, kadang aku lemah karena kekuatan itu menghilang dariku, kadang aku berpenampilan rapi karena aku suka dengan yang indah, aku suka memberi karena aku mengasihi, kadang aku membuat sesuatu meja misalnya karena aku ingin agar kayu menjadi lebih berguna, aku berbuat baik, menolong karena semua itu panggilan jiwa. Bahkan marahpun karena itu timbul dari dalam diriku Guru.
Guru :
Itulah tanda bahwa di dalam dirimu ada sifat-sifat yang tak terhingga banyaknya. Tahukah sifat-sifat itu dari mana asalnya?
Murid :
Tidak tahu Guru.
Guru :
Sifat itu ada pada diri manusia bersamaan dengan manusia itu diciptakan.
Murid :
Sifat itu asalnya dari mana Guru?
Guru :
Engkau bisa menjadi kuat karena engkau mendapat kekuatan dari Yang Maha Kuat, engkau menjadi rapi dan indah karena engkau mendapat keindahan dari Yang Maha Indah, engkau memberi karena mendapat sifat pemberi dari Yang Maha Pemberi, engkau mengasihi karena mendapat sifat mengasihi dari Yang Maha Kasih, kadang engkau membuat sesuatu karena engkau mendapat sifat dari Yang Maha Pencipta. Engkau menolong karena mendapat sifat dari Yang Maha Penolong, bahkan engkau marah pun karena engkau mendapat sifat dari yang Maha Besar, Maha Kuasa. Yang perlu kau ingat bahwa manusia hidup karena kemurahan dari Yang Maha Hidup.
Murid :
Mmmm…. Begitu ya Guru?
Guru :
Begitulah siapa dirimu adalah manifestasi dari Yang Serba Maha.
Mungkin jawaban ini yang engkau dapatkan dariku, semoga sedikit mengobati hatimu.
Murid :
Terimakasih guru atas jawaban yang engkau berikan.
Guru :
Hari sudah malam besok bisa engkau lanjutkan mengenai pertanyaanmu.
Murid :
Terimakasih Guru.
(Diterangkan dengan bahasa yang berbeda, Pokok Ajaran Plotinos diambil dari buku Alam Pikiran Yunani yang ditulus oleh Mohammad Hatta, hal 167)
Wednesday, 25 November 2009
Ketika Diriku Tidak Mampu Bertanya
Kawan, mau pergi ke mana? Pertanyaan yang terlontar dari mulutku ketika bertemu seorang teman di jalan. Aku menanyakan tujuannya. Lebih jauh bahwa setiap orang akan menuju ke sesuatu, waktu, keadaan, tempat, dzat. Lalu kemanakah tujuan hidupku? Itulah ketika diriku sudah mulai bertanya. Dengan bertanya, diriku terdorong untuk mengetahui jawabannya. Pikiranku pun mengembara untuk menjawab setiap pertanyaan yang muncul. Hatiku memutuskan jawaban manakah yang benar, jawaban yang manakah yang pantas untuk kuakui, kuyakini dan aku perbuat? Dari pertanyaan tadi aku berusaha untuk mencari jawabannya yang pada akhirnya kudapatkan banyak jawaban, ada mind, ideale, gest dan mente. Dari sekian banyak jawaban itu aku meyakini bahwa ideale merupakan jawaban yang benar. Jawaban yang pantas untuk kuakui, kuyakini, dan aku perbuat. Setiap hari ku pikirkan ideale. Ketika makan ku ingat ideale, ketika belajar ku ingat ideale, dalam berjalan ku ingat ideale,dalam tidur pun ku mimpi tentang ideale. Tidak terasa ideale telah masuk ke dalam pikiran, keyakinan, konsep dan prinsip hidup. Sehingga dari ideale ini pula berhasil ku dapatkan ideale 1, ideale 2, ideale 3,…. hingga ideale ke-n. Dari prinsip ini aku memiliki cita-cita. Entah cita-cita apakah itu. Yang jelas aku ingin mendirikan sebuah perusahaan PT Ideale. Dalam berkuliah pun aku serius demi mendapatkan cita-cita itu. Belajar setiap hari demi cita-cita, patuh dan menurut pada orang tua untuk mendapatkan doa restu agar kuliahku berhasil diiringi doa dan beribadah kepada Tuhanku aku perkuat dan aku hayati. Tindakan-tindakan tidak bergunua aku jauhi, bergaul dengan orang-orang yang berpengaruh buruk aku jauhi, berfoya-foya aku jauhi, serta hal-hal lain yang tidak bisa aku lukiskan lagi.
Aku syukuri lulus kuliah IPK ku lumayan, sehingga aku bisa diterima bekerja di sebuah perusahaan Tambang Batu Bara dengan gaji yang lebih dari cukup. Setelah bekerja akupun menikah. Aku bersyukur mendapatkan istri cantik, setia dan patuh pada suami, hingga aku dikaruniai 3 anak yang sehat dan ceria.
Dalam pekerjaanku aku meniti karir dari bawah, hingga akhirnya kudapatkan posisi manager dengan gaji lebih dari cukup, 14 juta perbulan. Gaji yang akan banyak sisa untuk ku tabung meskipun nantinya aku sudah berkeluarga, membahagiakan keluarga (anak dan istriku kelak) dan membahagiakan orang tuaku, termasuk menghajikan mereka, dan investasi untuk hari tua.
Alhamdulillah hampir semua cita-citaku tercapai meski juga diiringi beberapa kegagalan dan kerja keras. Dirumah pun istriku telah berhasil membuat perusahaan industri plastik. Perusahaan yang dulunya hanya bersekala rumah tangga yang mempekerjakan para tetangga, kini sudah berkembang boleh dibilang dalam skala daerah. Perusahaan itu pada awalnya dibangun dengan modal gajiku dalam bekerja di perusahaan tambang batu bara. Kini sudah mempekerjakan 900 orang. Rumah mewah, mobil mewah, istri cantik, anak yang sehat dan ceria, semua sudah aku miliki.
Sesuai dengan keinginan awalku ku hajikan kedua orang tuaku. Aku mensyukurinya segalanya telah kuraih. Syukur dan doa selalu kupanjatkan di setiap pagi, siang, sore ataupun malam. Aku menyadari bahwa hatiku membutuhkan sandaran vertikal. Hingga ku dapatkan hati yang tenang, hati yang bahagia karena penuh syukur dan ku niatkan segalanya sebagai ibadah.
Ku ingat waktu dulu bahwa aku pernah bertanya kemanakah tujuan hidupku. Ternyata jawaban dari tujuan hidupku adalah mind, ideale, gest dan mente. Aku meyakini salah satu jawaban tersebut. Kuakui, kuresapi, hingga jawaban tersebut mewarnai kehidupanku, hingga sekarang ini. Hingga semua dapat aku raih. Seandainya waktu itu aku tidak bertanya maka aku yakin bahwa aku yang seperti ini tidak akan ada.
(Diambil dari pendapat Rene Descartes, diceritakan dalam bahasa yang lain)
Awal dan Akhir
Tahun 2009 sudah hampir berakhir. Beberapa hari lagi akan memasuki tahun 2010. Yang dimaksud adalah tahun Masehi. Bagaimana dengan tahun Hijriah, tentu beda lagi. Banyak Kalender yang bisa dilihat. Masing-masing memiliki patokan yang umumnya suatu peristiwa ketika tahun tersebut dimulai baik tahun masehi ataupun tahun hijriah dan juga kalender suku Maya yang konon kabarnya berakhir tahun 2012.
Kalender-kalender tersebut adalah kalender di bumi. Adakah kalender-kalender yang lain yang dibuat di planet selain planet bumi? Mars misalnya, ataupun Pluto dimana kalender tersebut dibuat oleh penduduk di
Jika bumi tidak lagi ada, Mars tidak lagi ada, belum tentu matahari tidak lagi ada. Jika matahari tidak lagi ada, belum tentu matahari-matahari yang lain yang juga memiliki planet dan benda langit lainnya tidak lagi ada. Jika suatu galaksi tidak lagi ada, tidak menjamin bahwa galaksi-galaksi yang lain juga menjadi tidak lagi ada. Kiamat di bumi tidak berarti kiamat di mars. Kiamat di galaksi Bima Sakti belum tentu menjadi kiamat di Galaksi Andromeda ataupun Galaksi orion dan Nebula. Kiamat pada semua galaksi belum tentu membuat tempat dari galaksi-galaksi tersebut hilang dan serta merta membuat waktu berhenti.
Jika semua tempat yang ditempati oleh bumi dan galaksi-galaksi sudah tidak ada, dan waktu menjadi berhenti (entah berapa juta tahun jaraknya). Maka ada apa? Yang masih ada hanyalah yang menciptakan galaksi-galaksi tersebut dan yang menciptakan waktu yang dulunya berjalan dan kini mendadak berhenti. Dia tidak terikat tempat dan waktu, tidak pula terikat oleh kalender kalender di masing-masing tempat.